Selasa, 13 Desember 2011

Kebijakan Ekonomi Indonesia Dan Tantangannya

Situasi yang semula dihadapi Keynes adalah keadaan depresi di Eropa dan Amerika. Di sana pabrik-pabrik sudah ada, tenaga kerja yang ahli dan terampil ada, prasarana produksi seperti jalan dan jalur komunikasi ada, bank-bank juga ada namun semuanya macet karena kekurangan permintaan efektif. Maka, tindakan pemerintah untuk menambah Effective Demand, seperti yang disarankan oleh teori Keynes segera berhasil meningkatkan produksi tanpa menimbulkan inflasi.
Situasi demikian itu tidak boleh disamakan dengan situasi di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya. Produksi kita masih rendah, tidak karena kekurangan permintaan masyarakat (segi demand), melainkan karena kelemahan struktural (segi supply): kurang keahlian, kurang prasarana, kurang industri, dan sebagainya. Demikian pula sifat pengangguran berbeda. Pengangguran di Indonesia tidak pertama-tama bersifat “konjunktural” (karena kekurangan atau fluktuasi dalam permintaan efektit), melainkan struktural (karena memang kekurangan kesempatan kerja). Situasi demikian ini tidak bisa ditangani dengan cara “asal menambah permintaan efektit” saja. Sebab setiap tambahan permintaan efektif (entaih dari keuangan negara, dari ekspor, dari kredit luar negeri, atau dari ekspansi kredit bank) segera mengandung bahaya kenaikan harga, tidak karena permintaan itu begitu berlebihan, melainkan karena pertambahan produksi (output) tertinggal atau kalah cepat dengan pertambahan permintaan itu, jadi karena kendala-kendala di sektor produksi. Bila penyakitnya berbeda, obatnyapun harus berbeda.
Kebijakan ekonomi atau politik ekonomi (economic policy), yaitu cara-cara yang ditempuh atau tindakan-tindakan yang diambil oleh pemerintah dengan maksud untuk mengatur kehidupan ekonomi nasional guna mencapai tujuan-tujuan tertentu. Tujuan-tujuan yang mau dicapai telah ditetapkan oleh para wakil rakyat di MPR-DPR dan dituangkan dalam GBHN, yang dapat diringkas dalam “trilogi pembangunan“: kestabilan, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan.
Masalah konkret yang dihadapi dalam politik ekonomi ialah bahwa tujuan-tujuan tersebut belum tentu dapat dicapai bersama-sama. Sebab kerap kali usaha untuk mencapai tujuan yang satu terpaksa sedikit banyak harus mengorbankan tujuan yang lain. Misalnya, untuk menciptakan lapangan pekerjaan diperlukan investasi dalam jumlah yang besar. Tetapi investasi besar-besaran mudah menimbulkan inflasi dan memberatkan Neraca Pembayaran karena memperbesar impor. Demikian pula usaha menstabilkan harga beras sering bertolak belakang dengan usaha memajukan sektor pertanian dan pemerataan pendapatan bagi petani. Untuk menjawab tantangan itu memang diperlukan kebijaksanaan.
Pustaka: Pengantar Ilmu Ekonomi Makro Oleh Drs. T. Gilarso, SJ

Hal Yang Mempengaruhi Elastisitas Penawaran

Faktor-faktor terpenting yang mempengaruhi elastisitas penawaran adalah waktu yang diperlukan untuk menyesuaikan produksi dengan perubahan permintaan masyarakat, dan biaya produksi kalau produksi diperbesar atau diperkecil. Misalnya, seorang petani yang membawa basil kebunnya ke pasar untuk dijual (sayuran, buah-buahan, bunga). Penawarannya akan inelastis. Mengapa? Kalau harga di pasar lebih tinggi daripada yang diharapkannya, ia tidak segera akan dapat menawarkan lebih banyak karna harus menunggu musim berikut. Dan kalau harga lebih rendah daripada yang diharapkan, ia tetap akan menjual seluruh persediaannya karna barang-barang ini tidak dapat disimpan lama. Umumnya penawaran hasil-hasil pertanian bersifat inelastis.
Waktu yang diperlukan untuk menyesuaikan jumlah yang ditawarkan (Qs) dengan perubahan harga dapat dibedakan:
A. Jangka waktu sangat pendek
Dalam waktu satu/beberapa hari saja semua input tetap: oleh karena itu, para produsen/penjual tidak dapat segera menambah jumlah yang ditawarkan, meskipun konsumen bersedia membayar harga yang tinggi. Jumlah barang yang ditawarkan tergantung dari banyaknya persediaan yang ada pada saat itu. Maka, dalam jangka waktu sangat pendek penawaran bersifat inelastis.

B. Jangka pendek
Diartikan jangka waktu yang cukup untuk memungkinkan para produsen menambah jumlah produksinya dengan jalan menambah input variabel (dengan bekerja lebih keras/lama, mempergunakan lebih banyak bahan, dsb.), tetapi tidak cukup lama untuk memperbesar kapasitas produksi yang ada (areal pertanian, modal tetap seperti bangunan pabrik, mesin-mesin, dll).

Dalam keadaan demikian penawaran dapat elastis, dapat juga inelastis, tergantung jenis barang dan proses produksinya. Kalau memperbesar produksi menyebabkan biaya naik dengan cepat, make S akan inelastic. Tetapi kalau biaya produksi hampir tidak naik dengan pertambahan produksi, S akan bersifat elastis. Umumnya, hasil pertanian suplainya inelastic, sedang hasil pabrik lebih elastis.
C. Jangka panjang
Diartikan jangka waktu yang cukup lama hingga para produsen dapat menambah kapasitas produksi dengan menambah modal tetap (pabrik baru, mesin-mesin, perluasan areal pertanian, dsb) untuk menyesuaikan produksi dengan permintaan masyarakat. Makin lama jangka waktu, makin elastis penawaran.

Dalam jangka panjang, perkembangan teknik produksi di sektor industri dan produksi secara besar-besaran malah dapat menyebabkan harga turun, sehingga barang¬barang yang dulu dipandang barang mewah dan mahal menjadi barang kebutuhan biaya yang terbeli juga oleh orang banyak (misalnya, radio transistor, kalkulator, dsb).
Sumber: Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro Oleh Drs. T. Gilarso, SJ.
http://artikelekonomi.com/hal-yang-mempengaruhi-elastisitas-penawaran.html

Pengertian Mekanisme Dan Harga Pasar

Pengertian permintaan dan penawaran termasuk perangkat analisis yang dikembangkan oleh para ahli ekonomi untuk lebih dapat memahami proses ekonomi yang tetjadi di dalam masyarakat. Dalam bagian ini akan dibicarakan pengertian permintaan (Demand), penawaran (Supply), dan interaksi antara keduanya yang bersama-sama membentuk harga (Price) di pasar (Market).
Yang ditekankan adalah bagaimana hubungan antara jumlah barang yang man dibeli atau dijual, dan harga barang itu, apa yang menyebabkan perubahan harga, dan bagaimana reaksi pembeli dan penjual bila ada perubahan harga. Dengan bantuan pengertian ini, diharapkan Anda dapat lebih memahami bagaimana cara keerja sistem harga dan pasar dalam memecahkan masalah pokokekonomi
— Pembeli dan harga pasar: Permintaan
— Penjual den harga barang: Penawaran
— Harga keseimbangan: head interaksi permintaan den penawaran di pasar
Apa,bagaiman,dan untuk siapa. Lagipula mengapa pemerintah dalam beberapa hal perlu campur tangan untuk memodifikasi sistem pasar bebas demi kepentingan masyarakat.
Pembeli dan harga barang: permintaan
Untuk hidup layak dalam masyarakat, orang membutuhkan aneka ragam barang dan jasa. Yang tidak dapat diusahakan sendiri atau di produksi, terpaksa harus dibeli. Dibeli berarti orang harus membayar harganya. Berapa jumlah dari suatu barang tertentu yang dibeli oleh masyarakat tergantung dari berbagai faktor:
Berapa jumlah pembelinya;
Berapa banyak uang yang mereka miliki untuk dibelanjakan;
Berapa mahal harga barang;
Berapa harga barang – barang lain;
Termasuk kebutuhan pokokkah barang itu juga mode dan selera konsumen. Gengsinya dalam masyarakat, dan masih banyak lainnya lagi. Karena tidak mungkin semua faktor yang ikut berpengaruh dibahas sekaligus, dalam pasal ini kite fokuskan perhatian pada hubungan antara jumlah suatu barang/jasa yang mau dibeli (Quantity demanded) dan harga (Price) barang itu. Faktor-faktor lain yang mungkin ikut mempengaruhi jumlah yang mau dibeli itu untuk sementara dikesampingkan dulu dengan “ceteris paribus”.
Sumber: Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro – Oleh Drs. T. Gilarso, SJ.
http://artikelekonomi.com/pengertian-mekanisme-dan-harga-pasar.html

Kenaikan Harga Beras Capai Rekor Tertinggi

·         JAKARTA--MICOM: Harga beras di pasaran menjelang akhir tahun ini terus merangkak naik, selama tiga tahun terakhir kenaikan ini tertinggi. Kurangnya pasokan dan telatnya musim tanam diduga menjadi penyebab melonjaknya harga beras.

Hal itu dikatakan pengamat pertanian dari Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir. "Jika dilihat dari tren, kenaikan beras akhir tahun ini tertinggi selama tiga tahun terakhir," ucap Winarno, Selasa (13/12).

Dijelaskan Winarno, pada tahun 2009, harga gabah sekitar Rp4.000 per kilogram GKG (gabah kering giling), lalu pada 2010 menjadi Rp4.500 per kilogram GKG. Di akhir tahun ini harga GKG menjadi Rp5.200. "Kenaikan GKG inilah yang membuat harga beras di pasar meningkat tinggi," ujar Winarno.

Naiknya harga GKG diduga Winarno juga diakibatkan oleh mundurnya masa tanam petani. Musim tanam petani yang seharusnya dapat dilakukan pada bulan Oktober menjadi November karena cuaca buruk.

"Implikasinya, kalau musim tanam mundur maka panen juga mundur. Jadi, kalau tanamnya Oktober bisa dipanen bulan Januari, tapi sekarang kan mundur juag masa tanamnya," terang Winarno.

Kenaikan beras yang tertinggi selama tiga tahun terakhir itu diakui oleh kementerian pertanian. Tren kenaikan harga beras terus melonjak dan tidak turun-turun selama beberapa bulan terakhir.

"Kenaikan tahun ini bukanlah kejutan yang baru karena tahun lalu kenaikan harga beras juga terjadi. Namun bedanya, kenaikannya tidak terlalu tinggi. Seakrang naiknya pelan tapi terus menerus dan tidak pernah turun, tapi kalau dari segi kenaikan sih wajar karena menjelang Natal dan tahun baru," kata Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan ketika dihubungi.

Sebagai informasi, harga grosir beras di Pasar Induk Cipinang Jakarta hari ini tercatat, beras jenis Pandan Wangi dibanderol Rp10.000-Rp11.000/kg. Beras jenis setra dibanderol Rp9.300 per kilogram dan beras Saigon Rp8.800/kg.

Kenaikan harga juga terjadi pada jenis beras dengan kualitas yang lebih rendah. Jenis IR-64 I, dibanderol Rp 8.000 per kilogram, jenis IR-64 II sebesar Rp7.200-Rp7.600/kg, IR-64 III sebesar Rp6.700-Rp7.400/kg. Sedangkan untuk IR 42 yang dikenal dengan beras pera berkisar antara Rp7.800 dan Rp7.900/kg dan beras Bulog Rp6.500/kg.

Rupiah Selasa Sore Kembali Melemah

JAKARTA--MICOM: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah sebesar 10 poin atau balik arah ke area negatif setelah pada pagi tadi sempat menguat.

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarBank di Jakarta Selasa (13/12) sore bergerak ke posisi 9.060 dibanding sebelumnya 9.050.

"Mata uang Euro yang bergerak melemah terhadap dolar AS dan sepertinya akan terus tertekan akibat hasil pertemuan Eropa yang kembali mengecewakan investor, mendorong mata uang lainnya melemah termasuk rupiah," kata analis mata uang monex Investindo Futures Ariston Tjendra.

Menurutnya, pelaku pasar keuangan masih meragukan hasil KTT Eropa. KTT Uni Eropa tidak berhasil mendapatkan komitmen dari 27 negara anggota dalam penyatuan aturan fiskal negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa. "Sebanyak 17 negara pengguna euro dan enam negara Uni Eropa menyetujui penyatuan aturan disiplin fiskal. Sementara yang lain akan meminta
persetujuan parlemen masing-masing terlebih dahulu," katanya.

Ia mengatakan, tidak adanya satu suara terhadap proposal penyatuan aturan untuk mendisiplinkan fiskal negara-negara Uni Eropa mengecewakan pelaku pasar. Namun sisi positifnya, semua negara pemakai euro menyetujui dan Uni Eropa juga sepakat untuk menyediakan dana cadangan sebesar 200 miliar euro untuk dana moneter internasional (IMF) dalam membantu negara-negara yang bermasalah.
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/12/13/283729/20/2/Rupiah-Selasa-Sore-Kembali-Melemah

BI Optimistis Ekonomi 2012 Tumbuh Positif

SEMARANG--MICOM: Bank Indonesia optimistis perekonomian di tahun 2012 akan tumbuh positif karena tekanan inflasi diperkirakan akan tetap terkendali.

"Kami memperkirakan inflasi 2012 akan stabil sekitar 4,5% dan kami berharap iklim ekonomi akan dapat mendukungnya sehingga dapat menjadi modal bagus," kata Pimpinan Kantor Bank Indonesia Semarang, Joni Swastanto, seusai pertemuan tahunan perbankan di Semarang, Selasa (13/12).

Joni memperkirakan pada tahun 2012 sektor pertanian akan tumbuh bagus dengan didorong adanya peningkatan produksi padi yang cukup baik karena didukung cuaca yang secara umum baik.

"Jika pertumbuhan di sektor pertanian bagus maka produksi bahan makanan akan baik," katanya.

Terkait dengan evaluasi kinerja ekonomi Jateng 2011, dari sisi pertumbuhan diperkirakan perekonomian dapat tumbuh 6,0 persen hingga 6,3% (year on year) atau lebih tinggi dari pada tahun lalu yang mencapai 5,8% (yoy).

Sementara jika dilihat dari sisi sektoral, tiga sektor ekonomi utama di Jateng yakni sektor industri pengolahan, pertanian, serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran, masih dapat tumbuh 6,0%, 3,9%, dan 7,1% pada triwulan III tahun 2011.

Dari sisi penggunaan, konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di tahun 2011 dan tercatat hingga triwulan III tahun 2011 tumbuh 7,9% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan level nasional.

Terkait dengan ekspor-impor, tambah Joni, pada tahun 2011 menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Hingga Oktober 2011, nilai ekspor Jateng meningkat 8,69% (yoy), sedangkan impor meningkat sebesar 39,33% (yoy).

"Kami melihat dampak krisis di Eropa dan pelemahan ekonomi global hingga akhir tahun ini belum akan berdampak dan kami perkirakan dampaknya baru akan terasa tahun depan," katanya.

Menurut Joni untuk ekspor komoditas kelas premium tidak terpengaruh dan jika ada pengaruhnya hanya sedikit, tidak signifikan.

Diperlukan upaya agar dampak global dapat ditekan di tahun 2012 dan tahun-tahun selanjutnya, di antaranya dengan pengawasan terhadap daya saing produk yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan agar produk ekspor komoditas Jateng dapat bersaing di pasar internasional.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2012

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2012 hanya sebesar 6,3 persen, lebih rendah dari proyeksi untuk 2011 sebesar 6,4 persen.

"Salah satu faktor yang mempengaruhi pelambatan pertumbuhan ini adalah kemorosotan ekonomi global," kata Ekonom Bank Dunia Perwakilan Indonesia, Shubham Chaudhuri, di Institut Kebijakan Publik Paramadina Jakarta, Selasa.

Menurut dia, pasar keuangan Indonesia tidak kebal terhadap guncangan eksternal. Tetapi Indonesia tetap menunjukkan kinerja ekonomi yang kuat di tengah banyaknya negara di dunia yang mengalami penurunan tajam posisi fiskal dan neraca keuangan sektor swasta sejak 2008.

Lebih lanjut Shubham mengatakan, fundamental ekonomi makro Indonesia yang kokoh adalah pertahanan utama dalam menghadapi gejolak pasar yang terus berlangsung.

Menurut dia, penting bagi Indonesia mengambil langkah-langkah meningkatkan ketahanan terhadap goncangan pasar keuangan global termasuk dengan menghindari ketidakpastian dalam kebijakan.

Bank Dunia telah menurunkan proyeksi angka pertumbuhan ekonomi tahun 2012 dari 6,7 persen menjadi 6,3 persen pada Juni 2011 karena melemahnya pertumbuhan ekonomi negara-negara mitra dagang utama dan harga komoditas.

Namun, menurut Shubham, angka ini masih menempatkan perekonomian Indonesia pada posisi yang kuat.

"Saat ini, dalam skenario Bank Dunia, tidak perlu dilakukan perhitungan darurat," kata Shubham.

Namun, menurut dia, sebagai persiapan untuk menghadapi skenario krisis ada beberapa hal penting yang bisa dilakukan antara lain mengkaji ulang protokol krisis manajemen terutama pada sektor finansial, mempertimbangkan pembiayaan tak terduga untuk anggaran, dan mempersiapkan rencana darurat berupa stimulus fiskal.

Pada skenario yang pesimistis termasuk jika terjadi krisis keuangan internasional serta melemahnya permintaan eksternal, maka Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2012 akan turun hingga hanya 5,5 persen.

Sedangkan pada skenario yang ekstrim di mana krisis menyebabkan turunnya pertumbuhan global secara signifikan dan India serta China juga menghadapi pertumbuhan yang besar, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2012 akan merosot tajam namun masih berada di atas empat persen.
http://pinehas.blogspot.com/2011/10/pertumbuhan-ekonomi-indonesia-pada.html